FORMASI
SUBJEK PENDIDIKAN EMANSIPATORIS DALAM MEMBANGUN PLURALITAS DAN KEBHINEKAAN DI
YOGYAKARTA
(Agung
Kresna Bayu)
LATAR BELAKANG
Yogyakarta
merupakan ruang sosial yang memiliki berbagai identitas, pahatan identitas sebagai
kota pelajar, pendidikan, wisata, atau jargon birokrasi keistimewaannya.
Identitas tersebut melekat pada ruang Yogyakarta dan tumbuh bersama dalam
pengabdian pada sang waktu, salah satu identitas Yogya yang telah lama di kenal
oleh khalayak adalah identitas sebagai kota pendidikan, berbicara identitas
sebagai kota pendidikan memang layak disematkan pada Yogyakarta, sebab
Yogyakarta memiliki kekayaan intelektual dalam ruang sosial nya yang termanifestasikan
dalam lembaga pendidikan. Tidak di ragukan lagi bahwa, lembaga pendidikan yang
bernaung di Yogyakarta memiliki kualifikasi yang cukup baik di Indonesia,
sehingga menjadi medan magnet penarik setiap individu dari luar Yogya untuk
datang dan menimbah ilmu sebagai modal mengabdi pada misteri masa depan. Hal
ini membuat Yogyakarta memiliki beragam identitas dalam setiap diri individu,
oleh sebab itu julukan sebagai mininya Indonesia layak disematkan pada ruang
bernama Yogyakarta.
Beragamnya
latar belakang ini dapat meyebabkan perselisihan dan tidakan intoleransi,
sebagaimana lacakan konflik di Yogyakarta lima tahun terakhir. Setelah Yogya
mendapat satu tambahan identitas sebagai kota toleransi oleh wahid institute seolah identitas
tersebut hanya sebagai simbol, hal ini dapat dilihat dari melonjaknya angka
konflik di Yogyakarta setelah rilis tersebut dikeluarkan, sehingga banyak orang
menanyakan ulang patutkah gelar kota toleransi melekat pada Yogyakarta. Konflik
yang diakibatakan oleh keberagaman menjadi salah satu hal yang esensialis untuk
dipecahkan, sebab konflik tersebut menyangkut suku, ras, dan agama yang menjadi
identitas sensitif setiap individu, dasar dari setiap manusia sebagai kelompok
rentan menjadikan mereka memegang betul identitas tersebut sebagai modal untuk
mengatasi kerentanannya. Oleh sebab itu diperlukan sinergi untuk mengatasi
masalah kebergaman yang berujung pada perbedaan dan konflik, keberagaman
sesunggunya merupakan kekayaan kultural dan identitas sebagai modal membangun
bangsa, perbedaan bukan selama nya bermakna perbedaan, tetapi berbeda juga
sebuah konsep dalam kebhinekaan. Genealogis keberagaman telah nampak pada pita
cengkraman garuda, dengan semboyan bhineka tunggal ika. Dalam argumentasi
penulis konsep kebhinekaan sejatinya telah menyatu pada setiap individu yang
hidup dalam keberagaman, akan tetapi yang perlu kita tekankan untuk saat ini
adalah konsep keikaan sebagai modalitas persamaan yang dapat lebih kuat dari
esensi perbedaan, salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk menanamkan
konsep tersebut menggunakan konsep dalam
dunia pendidikan. Tidak dipungkuri lagi bahwa pendidikan merupakan wahana untuk
menanamkan bukan hanya konsep ilmu pengetahuan melainkan juga konsep tentang
kehidupan, untuk itu kesadaran masing-masing pihak dalam dunia pendidikan
diperlukan peran aktifnya dalam mencerdaskan dan memberi budi pekerti pada sang
pengabdi masa depan. Segitiga pendidikan antara anak, orang tua, dan guru
menjadi segitiga yang akan membentuk pola berpikir anak selain faktor the other dalam tubuh peer group dan ektended family untuk menanamkan sikap membangun yang berlandasan
perbedaan atau penegelolahan keikaan dalam kebhinekaan, sebab kunci saat hidup
berbeda adalah redistribusi, rekognisi, dan rekonsiliasi yang dapat dipahatkan
pada individu melalui dunia pendidikan.
WACANA
PENDIDIKAN DAN KONSTRUKSI NILAI EMANSIPATORIS
Pendidikan merupakan wahana untuk
meyemai, menumbuhkan, dan membentuk subjek pembelajar nan humanis dan emansipatoris.
Pendidikan menempati garda depan untuk memberikan informasi yang aktual sekaligus
filter bagi informasi tersebut, pendidikan dan perbedaan layakya dua sisi mata
uang yang tidak bisa dilepaskan. Bahwa dalam pedidikan sejatinya terdapat
perbedaan, perbedaan dalam dimensi fisik maupun non fisik. Sebagai salah satu
wahana pembentuk formasi subjek(mind,
body, soul) dunia pendidikan memiliki peran penting menjawab kebutuhan
bangsa di masa depan. Kesalingterpaduan pembentukan antara mind, body, and soul menjadi formasi pembentukan subjek pendidikan,
terbenuknya pola pikir akan kebergaman juga diikuti oleh konsep yang menubuh
bukan hanya dalam artikulsi semata. Selain pikiran tubuh merupakan representasi
jiwa, oleh sebab itu saat belajar keberagaman bukan hanya pikiran yang terbuka
dengan perbedaan, tetapi kosep tersebut harus bersemayang dalam jiwa yang akan
termanifestasi melalui cara bertutur dan bertingkah. Akan tetapi kajian kritis
terhadap pendidikan yang berafiliasi dengan politik berujung pada kunkungan
sistem kurikulum dalam frame dunia akademik, pendidikan seolah harus menyatu
dengan politik padahal dalam argumentasi penulis seharusnya pendidikan
merupakan wahana sendiri dan politik juga bahasan teresendiri. Lacakan pada
periode pendidikan di Indonesia memberikan refleksi bahwa pembangunan keikaan
dalam kebhinekaan seharusnya dilakuakan sedari dini, upaya untuk membetuk
subjek pembelajar yang mengaharagai perbedaan sejatinya merupakan pekerjaan
rumah kita semua seperti program pemerintah Yogyakarta yang memberikan konsep
mengenai experincing diversity.
Refleksi penulis saat melihat fenomena anak kecil yang menjustifikasi salah
terhadap liyan dengan idetitas berbedah merupakan pukulan telak baik bagi dunia
pendidikan maupun sosial, penanaman sedari dini kepada setiap subjek bahwa
terdapat perbedaan merupakan langkah awal untuk mendekontruksi konflik akibat
perbedaan etnik dan agama. Saat melihat konflik yang terjadi jangan kita
analisis konflik yang nampak tetapi bagaimana kita mengelaborasi konflik yang
laten dan akarnya sehingga mengalami kulminasi sebagai koflik akibat perbedaan.
Konsepsi
mengenai antisipatoris merupakan konsep pendidikan sebagai modal untuuk
mengabdi sekaligus menjawab tantangan masa depan, di era mendatang kita tidak
hanya bergulat dengan globalisasi, modernisasi, dan teknologi. Akan tetapi kita
juga akan menjalani masa yang misteri dengan trejektori modal saat ini,
pendidikan antisipatoris sejatihnya juga terdapat bagian bagaimana mengolah
perbedaan agar mencipatakan dimensi positif dan kondusif. Penciptaan dunia
sedemikian rupa dapat di mulai sedari dini saat membuka tabir kemutlakan ajaran
terhadap peserta didik, dalam argumentasi penulis selama ini pendidikan di
Indonesai tidak memberikan ruang terhadap peserta didik untuk memberikan
pemikiran dan berpikir berbedah dari liyan. Apalagi saat berbicara bilik suci
bernama agama, ayat dalam suatu agama berusaha disampaikan secara mutlak dan
tanpa membuka penafsirannya, padahal ayat tersebut merupakan hasil tafsiran
yang bersist subjektif, disinilah yang perlu kita dekonstruksi awal sebagai
modal unuk membuka perbedaan dan menerapkan prinsip redistribusi, rekongnisi,
dan rekonsiliasi. Sedari kecil saat subjek pendidikan ini diberikan nilai bahwa
identitas kita yang paling benar dan menanamkan bahwa orang yang berbedah dari
kita adalah salah merupakan pembodohan awal yang akan berujung pada titik
kulminasi tindakan knflik yang berafiliasi dengan identitas. Oleh sebab itu
perlunya membuka tabir mengenai kebergaman dan perbedaan sedari dini merupakan
langkah awal untuk menjadikan kebhinekaan sebagai modal pembangunan, salah satu
yang diterapkan di Yogyakarta adalah program pertukaran pelajar. Program ini
mengirim putra putri pilihan untuk belajar selama dua minggu di tempat lain,
dengan mengirim ke tempat lain yang memiliki latar belakang identitas dan
kultural yang berbedah menjadikan anak mengalami pengalamann perbedaan. Inilah
yang menjadi salah satu konsep untuk merekognisi perbedaan dan menghormati
keberagaman. Saat subjek tersebut megalami pengalaman perbedaan maka kontruksi
nilai-nilai mengenai perbedaan akan terdekonstruksi, sehingga wawasan akan
keberagaman serta kebangsaan akan semakin luas.
Saat
kita membicarakan genealogis pendidikan kita akan jatuh pada lini masa dunia
pendidikan, revolusi nasional juga memberikan angin segar pada pendidikan
nasional meskipun lacakan awal memberikan fakta dalam tulisan Riclekf bahwa
politik etis sedikit banyak juga memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan.
Selanjutnya, peristiwa reformasi juga memberikan pembukaan tabir dalam dunia
intelektual untuk menanggung persamaan senasib akan kegelisahan, persamaan
tersebut menjadi modal untuk melakukan resistesi tanpa memandang perbedaan.
Konsep inilah yang perlu ditekankan pada dunia pendidikan bahwa dalam perbedaan
identitas, janganlah menaruh titik perhatian pada perbedaannya tetapi bagaimana
menyemai perasaan persamaan yang mengikis perbedaan. Sebab dengan mengikis
perbedaan tersebut akan muncul perasaan saling memiliki, meyakini, dan
mengahrgai. Inilah esensi sesunggunya dari cinta dalam keberagaman, sebab saat
cinta yang memainkan peran sesuai tupoksinya perbedaan tidak bisa menghalangi
namanya cinta.
TRANSLASI
KEBINEKAAN DI YOGYAKARTA MELALUI POLITIK CINTA
Cinta
merupakan konsep romansa dalam kehidupan, penafsiran cinta selama ini mengalami
peyempitan makna hanya pada relasi laki-laki dan perempuan, sejatinya cinta
bukan hanya esensi sederhana aku cinta kamu, tetapi dalam cinta terdapat unsur
kasih sayang, penghargaan, dan penghormatan. Saat cinta kembali menempati tugas
dan fungsinya maka cinta dapat digunakan sebagai perasaan dasar saat berbicara
perbedaan, sebab cinta tidak harus mencintai yang sama tetapi juga yang
berbedah. Hal ini yang disebut dengan politik cinta dimana tautannya
dengan keberagamaan merupakan struktur
yang tidak bisa lepas, sebab saat kita menggunakan politik cinta dalam
perbedaan, perbedaan yang muncul hayalah besrsifat ekses atau bagai riak di
tengah samudra, sebab kita telah memegang track yang sama akan cinta dan
persamaan.
Untuk
mengaitkan politik cinta, keberagaaman, dan pendidikan kebhinekaan. Penulis mencoba
untuk mengelaborasi hal tersebut sebagai segitiga emas untuk membangun kebhinekaan Yogyakarta, melalui dunia
pendidikan sedari lembaga pendidikan paling dasar sampai tingkat pendidikan
tinggi sejak dini mulai memberikan ruang terhadap perbedaan pemikiaran,
memberikan kebebasan kepada subjek pendidikan untuk membentuk formasi tubuhnya.
Akan tetapi juga harus diseimbangkan dengan konsep dasar akan kesadaran diri,
bagaimanapun juga penulis percaya bahwa refleksi diri akan tumbuh menjadi
motivasi internal dalam diri individu ketimbang pemaksaan yang berujung
kekerasan. Penanaman kesadaran akan hidup dalam keberagaman dan memahamai
esensi dasar dari cinta merupakan tonggak awal sebagai pembentukan subjek
pendidikan yang kritis, humanis, dan asketis. Perlunya kesinabungan peran
antara guru, orang tua, dan teman sepermainan dalam memberikan nilai dasar
cinta dan perbedaan, niscaya saat individu memegang cinta sebagai dasar dalam
keberagaman saat memadang orang yang benci pada dirinya pun akan dibaca sebagai dislokasi cinta. Sesuai
dengan perpektif Lacanian bahwa dalam kehidupan terdapat hasrat dan kekurangan
yang menjadi satu, untuk membaca konflik akan memberikan penjelaasan bahwa
orang behasrat untuk berkonflik sebab mereka merasa kekurangan, kekurangan bisa
karena faktor material maupun immaterial. Kembali pada poin pembahasan memegang
cinta sebagai modal dasar serta meyematkan sosialisasinya dalam dunia
pendidikan agar terbetuk formasi subjek pendidikan yang bersifat dapat
menghegemoni dimanapun spasial nya atau saat penulis meminjam istilah Laclau
menggunakan konsep populismenya.
Kesadaran
akan perbedaan berlandaskan politik cinta dalam meyemai subjek pembelajar dunia
pendidikan, maka hal tersebut akan memberikan modal pembangunan untuk
membangung Yogyakarta dengan kekhasaan dan langskap identitasnya Membangun
tanpa melihat perbedaan sebagai prasangka yang menghasilkan pandangan akan
sentimenitas, memandang perbedaan sebagai corak warna keberagaman yang indah
saat disatukan. Dengan memanfaatkan kuasa dunia pendidikan sedari dini kita
mengkontruksi pada subjek pembelajar bahwa aku bukan hanya kita, tetapi aku
adalah kami, kita, kalian, dan mereka. Saat kesadaran ini terbentuk idelogi
pembanguan tidak akan hanya mengejar keuntungan tetapi juga kemanusiaan dan
prinsip keberlanjutan, penulis yakin dengan modal sosial yang terbentuk sedari
dini terhadap intelektualitas masa depan, Jogja akan kembali pada hakikat
toleransi, pembanguan dalam konteks peribadatan seperti pembangunan gereja tidak
akan lagi mengalami penolakkan yang berujung konflik layaknya di Gunungkidul.
Oleh sebab itu menjadikan perbedaan sebagai modal pembangunan yang menunjang
identitas Jogja sebagai kota pendidikan, wisata, dan budaya akan semakin mengorbitkan
Jogja yang berhati nyamann, damai, dan aman.
KESIMPULAN
Pembangunan
merupakan respon terhadap perubahan, sebagai seorang sosiolog penulis menilai
pembangunan bukan hanya fisik dan perubahan bukan hanya material tetapi
pembanguanan dan perubahan memiliki dimensi sosial. Dimensi tak kasat mata
tetapi sangat menentukan perubahan, apalagi dalam kontur masyarakat yang
beragam seolah perubahan hanya menunggu waktu sebagai jawaban atas pembangunan.
Salah satu hal yang patut digarisbawahi adalah bagaimana membawah perubahan ke
arah konstruktif bukan dekonstruktif, melalui penanaman kesadaran akan
perbedaan serta cinta sebagai lantai kesamaan akan menjadi modalitas awal dalam
menyelami perbedaan. Konsep mengenai tata kelola perbedaan tersebut dapat
dimasukan melalui konsep pendidikan kebhinekaan, dalam masyarakat mulikultural
seperti Yogyakarta bhineka sudah menjadi kodrat alami tetapi konsep keikaan
yang sejatinya perlu diperjuangkan. Pembentukan subjek pembelajar yang
bersinergi dengan keberagaman akan menghasilkan modal sosial untuk mengabdi
pada masa depan, saat setiap subjek pembelajar menghayati perbedaan dengan
lantai persamaan prasangka akan the other
akan mengalami dekontruksi makna, mengangap kawan berbedah bukan sebgai lawan
tetapi sebagai kolaborator untuk mengatasi dimensi kerentanan pada misteri masa
depan. Saat individu sadar akan posisi subjektivitasnya konsep pembangunan akan
berjalan dengan baik, bukan hanya pembangunan yang berjalan lancar tetapi ko nflik
akibat perbedaan, pertikaan akibat sentimen keyakinan akan terkikis secara
perlahan. Sebagai arena awal pembentukan formasi subjek tersebut dunia
pendidikan melalui peran lembaga pendidikan dari dasar sampai tinggi memiliki
posisi kuasa yang dapat memainkan peran tersebut. Untuk itu pemanfaatan dunia
pendidikan dengan kuasa yang dimiliki untuk menanamkan perasaan dasar esensi
cinta dalam keberagaman memainkan peran yang dominan untuk membentuk formasi
subjek yang populis, melalui konsep pendidikan kebhinekaan sejatinya menghargai
perbedaan dan meyemai persamaan dapat diimplementasikan. Sehingga, konsep besar
Yogya untuk membangun bineka tanpa prasangka akan terwujud dan menjadi tonggak
pembangunan baik untuk lini masa sekarang dan pengabdian pada misteri masa
depan.
