Jumat, 22 September 2017

FORMASI SUBJEK PENDIDIKAN EMANSIPATORIS DALAM MEMBANGUN PLURALITAS DAN KEBHINEKAAN DI YOGYAKARTA



FORMASI SUBJEK PENDIDIKAN EMANSIPATORIS DALAM MEMBANGUN PLURALITAS DAN KEBHINEKAAN DI YOGYAKARTA
(Agung Kresna Bayu)
 LATAR BELAKANG
Yogyakarta merupakan ruang sosial yang memiliki berbagai identitas, pahatan identitas sebagai kota pelajar, pendidikan, wisata, atau jargon birokrasi keistimewaannya. Identitas tersebut melekat pada ruang Yogyakarta dan tumbuh bersama dalam pengabdian pada sang waktu, salah satu identitas Yogya yang telah lama di kenal oleh khalayak adalah identitas sebagai kota pendidikan, berbicara identitas sebagai kota pendidikan memang layak disematkan pada Yogyakarta, sebab Yogyakarta memiliki kekayaan intelektual dalam ruang sosial nya yang termanifestasikan dalam lembaga pendidikan. Tidak di ragukan lagi bahwa, lembaga pendidikan yang bernaung di Yogyakarta memiliki kualifikasi yang cukup baik di Indonesia, sehingga menjadi medan magnet penarik setiap individu dari luar Yogya untuk datang dan menimbah ilmu sebagai modal mengabdi pada misteri masa depan. Hal ini membuat Yogyakarta memiliki beragam identitas dalam setiap diri individu, oleh sebab itu julukan sebagai mininya Indonesia layak disematkan pada ruang bernama Yogyakarta.
Beragamnya latar belakang ini dapat meyebabkan perselisihan dan tidakan intoleransi, sebagaimana lacakan konflik di Yogyakarta lima tahun terakhir. Setelah Yogya mendapat satu tambahan identitas sebagai kota toleransi oleh wahid institute seolah identitas tersebut hanya sebagai simbol, hal ini dapat dilihat dari melonjaknya angka konflik di Yogyakarta setelah rilis tersebut dikeluarkan, sehingga banyak orang menanyakan ulang patutkah gelar kota toleransi melekat pada Yogyakarta. Konflik yang diakibatakan oleh keberagaman menjadi salah satu hal yang esensialis untuk dipecahkan, sebab konflik tersebut menyangkut suku, ras, dan agama yang menjadi identitas sensitif setiap individu, dasar dari setiap manusia sebagai kelompok rentan menjadikan mereka memegang betul identitas tersebut sebagai modal untuk mengatasi kerentanannya. Oleh sebab itu diperlukan sinergi untuk mengatasi masalah kebergaman yang berujung pada perbedaan dan konflik, keberagaman sesunggunya merupakan kekayaan kultural dan identitas sebagai modal membangun bangsa, perbedaan bukan selama nya bermakna perbedaan, tetapi berbeda juga sebuah konsep dalam kebhinekaan. Genealogis keberagaman telah nampak pada pita cengkraman garuda, dengan semboyan bhineka tunggal ika. Dalam argumentasi penulis konsep kebhinekaan sejatinya telah menyatu pada setiap individu yang hidup dalam keberagaman, akan tetapi yang perlu kita tekankan untuk saat ini adalah konsep keikaan sebagai modalitas persamaan yang dapat lebih kuat dari esensi perbedaan, salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk menanamkan konsep tersebut  menggunakan konsep dalam dunia pendidikan. Tidak dipungkuri lagi bahwa pendidikan merupakan wahana untuk menanamkan bukan hanya konsep ilmu pengetahuan melainkan juga konsep tentang kehidupan, untuk itu kesadaran masing-masing pihak dalam dunia pendidikan diperlukan peran aktifnya dalam mencerdaskan dan memberi budi pekerti pada sang pengabdi masa depan. Segitiga pendidikan antara anak, orang tua, dan guru menjadi segitiga yang akan membentuk pola berpikir anak selain faktor the other dalam tubuh peer group dan ektended family untuk menanamkan sikap membangun yang berlandasan perbedaan atau penegelolahan keikaan dalam kebhinekaan, sebab kunci saat hidup berbeda adalah redistribusi, rekognisi, dan rekonsiliasi yang dapat dipahatkan pada individu melalui dunia pendidikan.

WACANA PENDIDIKAN DAN KONSTRUKSI NILAI EMANSIPATORIS
             Pendidikan merupakan wahana untuk meyemai, menumbuhkan, dan membentuk subjek pembelajar nan humanis dan emansipatoris. Pendidikan menempati garda depan untuk memberikan informasi yang aktual sekaligus filter bagi informasi tersebut, pendidikan dan perbedaan layakya dua sisi mata uang yang tidak bisa dilepaskan. Bahwa dalam pedidikan sejatinya terdapat perbedaan, perbedaan dalam dimensi fisik maupun non fisik. Sebagai salah satu wahana pembentuk formasi subjek(mind, body, soul) dunia pendidikan memiliki peran penting menjawab kebutuhan bangsa di masa depan. Kesalingterpaduan pembentukan antara mind, body, and soul menjadi formasi pembentukan subjek pendidikan, terbenuknya pola pikir akan kebergaman juga diikuti oleh konsep yang menubuh bukan hanya dalam artikulsi semata. Selain pikiran tubuh merupakan representasi jiwa, oleh sebab itu saat belajar keberagaman bukan hanya pikiran yang terbuka dengan perbedaan, tetapi kosep tersebut harus bersemayang dalam jiwa yang akan termanifestasi melalui cara bertutur dan bertingkah. Akan tetapi kajian kritis terhadap pendidikan yang berafiliasi dengan politik berujung pada kunkungan sistem kurikulum dalam frame dunia akademik, pendidikan seolah harus menyatu dengan politik padahal dalam argumentasi penulis seharusnya pendidikan merupakan wahana sendiri dan politik juga bahasan teresendiri. Lacakan pada periode pendidikan di Indonesia memberikan refleksi bahwa pembangunan keikaan dalam kebhinekaan seharusnya dilakuakan sedari dini, upaya untuk membetuk subjek pembelajar yang mengaharagai perbedaan sejatinya merupakan pekerjaan rumah kita semua seperti program pemerintah Yogyakarta yang memberikan konsep mengenai experincing diversity. Refleksi penulis saat melihat fenomena anak kecil yang menjustifikasi salah terhadap liyan dengan idetitas berbedah merupakan pukulan telak baik bagi dunia pendidikan maupun sosial, penanaman sedari dini kepada setiap subjek bahwa terdapat perbedaan merupakan langkah awal untuk mendekontruksi konflik akibat perbedaan etnik dan agama. Saat melihat konflik yang terjadi jangan kita analisis konflik yang nampak tetapi bagaimana kita mengelaborasi konflik yang laten dan akarnya sehingga mengalami kulminasi sebagai koflik akibat perbedaan.
Konsepsi mengenai antisipatoris merupakan konsep pendidikan sebagai modal untuuk mengabdi sekaligus menjawab tantangan masa depan, di era mendatang kita tidak hanya bergulat dengan globalisasi, modernisasi, dan teknologi. Akan tetapi kita juga akan menjalani masa yang misteri dengan trejektori modal saat ini, pendidikan antisipatoris sejatihnya juga terdapat bagian bagaimana mengolah perbedaan agar mencipatakan dimensi positif dan kondusif. Penciptaan dunia sedemikian rupa dapat di mulai sedari dini saat membuka tabir kemutlakan ajaran terhadap peserta didik, dalam argumentasi penulis selama ini pendidikan di Indonesai tidak memberikan ruang terhadap peserta didik untuk memberikan pemikiran dan berpikir berbedah dari liyan. Apalagi saat berbicara bilik suci bernama agama, ayat dalam suatu agama berusaha disampaikan secara mutlak dan tanpa membuka penafsirannya, padahal ayat tersebut merupakan hasil tafsiran yang bersist subjektif, disinilah yang perlu kita dekonstruksi awal sebagai modal unuk membuka perbedaan dan menerapkan prinsip redistribusi, rekongnisi, dan rekonsiliasi. Sedari kecil saat subjek pendidikan ini diberikan nilai bahwa identitas kita yang paling benar dan menanamkan bahwa orang yang berbedah dari kita adalah salah merupakan pembodohan awal yang akan berujung pada titik kulminasi tindakan knflik yang berafiliasi dengan identitas. Oleh sebab itu perlunya membuka tabir mengenai kebergaman dan perbedaan sedari dini merupakan langkah awal untuk menjadikan kebhinekaan sebagai modal pembangunan, salah satu yang diterapkan di Yogyakarta adalah program pertukaran pelajar. Program ini mengirim putra putri pilihan untuk belajar selama dua minggu di tempat lain, dengan mengirim ke tempat lain yang memiliki latar belakang identitas dan kultural yang berbedah menjadikan anak mengalami pengalamann perbedaan. Inilah yang menjadi salah satu konsep untuk merekognisi perbedaan dan menghormati keberagaman. Saat subjek tersebut megalami pengalaman perbedaan maka kontruksi nilai-nilai mengenai perbedaan akan terdekonstruksi, sehingga wawasan akan keberagaman serta kebangsaan akan semakin luas.
Saat kita membicarakan genealogis pendidikan kita akan jatuh pada lini masa dunia pendidikan, revolusi nasional juga memberikan angin segar pada pendidikan nasional meskipun lacakan awal memberikan fakta dalam tulisan Riclekf bahwa politik etis sedikit banyak juga memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan. Selanjutnya, peristiwa reformasi juga memberikan pembukaan tabir dalam dunia intelektual untuk menanggung persamaan senasib akan kegelisahan, persamaan tersebut menjadi modal untuk melakukan resistesi tanpa memandang perbedaan. Konsep inilah yang perlu ditekankan pada dunia pendidikan bahwa dalam perbedaan identitas, janganlah menaruh titik perhatian pada perbedaannya tetapi bagaimana menyemai perasaan persamaan yang mengikis perbedaan. Sebab dengan mengikis perbedaan tersebut akan muncul perasaan saling memiliki, meyakini, dan mengahrgai. Inilah esensi sesunggunya dari cinta dalam keberagaman, sebab saat cinta yang memainkan peran sesuai tupoksinya perbedaan tidak bisa menghalangi namanya cinta.
TRANSLASI KEBINEKAAN DI YOGYAKARTA MELALUI POLITIK CINTA  
Cinta merupakan konsep romansa dalam kehidupan, penafsiran cinta selama ini mengalami peyempitan makna hanya pada relasi laki-laki dan perempuan, sejatinya cinta bukan hanya esensi sederhana aku cinta kamu, tetapi dalam cinta terdapat unsur kasih sayang, penghargaan, dan penghormatan. Saat cinta kembali menempati tugas dan fungsinya maka cinta dapat digunakan sebagai perasaan dasar saat berbicara perbedaan, sebab cinta tidak harus mencintai yang sama tetapi juga yang berbedah. Hal ini yang disebut dengan politik cinta dimana tautannya dengan keberagamaan merupakan struktur yang tidak bisa lepas, sebab saat kita menggunakan politik cinta dalam perbedaan, perbedaan yang muncul hayalah besrsifat ekses atau bagai riak di tengah samudra, sebab kita telah memegang track yang sama akan cinta dan persamaan.
Untuk mengaitkan politik cinta, keberagaaman, dan pendidikan kebhinekaan. Penulis mencoba untuk mengelaborasi hal tersebut sebagai segitiga emas untuk membangun kebhinekaan Yogyakarta, melalui dunia pendidikan sedari lembaga pendidikan paling dasar sampai tingkat pendidikan tinggi sejak dini mulai memberikan ruang terhadap perbedaan pemikiaran, memberikan kebebasan kepada subjek pendidikan untuk membentuk formasi tubuhnya. Akan tetapi juga harus diseimbangkan dengan konsep dasar akan kesadaran diri, bagaimanapun juga penulis percaya bahwa refleksi diri akan tumbuh menjadi motivasi internal dalam diri individu ketimbang pemaksaan yang berujung kekerasan. Penanaman kesadaran akan hidup dalam keberagaman dan memahamai esensi dasar dari cinta merupakan tonggak awal sebagai pembentukan subjek pendidikan yang kritis, humanis, dan asketis. Perlunya kesinabungan peran antara guru, orang tua, dan teman sepermainan dalam memberikan nilai dasar cinta dan perbedaan, niscaya saat individu memegang cinta sebagai dasar dalam keberagaman saat memadang orang yang benci pada dirinya pun  akan dibaca sebagai dislokasi cinta. Sesuai dengan perpektif Lacanian bahwa dalam kehidupan terdapat hasrat dan kekurangan yang menjadi satu, untuk membaca konflik akan memberikan penjelaasan bahwa orang behasrat untuk berkonflik sebab mereka merasa kekurangan, kekurangan bisa karena faktor material maupun immaterial. Kembali pada poin pembahasan memegang cinta sebagai modal dasar serta meyematkan sosialisasinya dalam dunia pendidikan agar terbetuk formasi subjek pendidikan yang bersifat dapat menghegemoni dimanapun spasial nya atau saat penulis meminjam istilah Laclau menggunakan konsep populismenya.
Kesadaran akan perbedaan berlandaskan politik cinta dalam meyemai subjek pembelajar dunia pendidikan, maka hal tersebut akan memberikan modal pembangunan untuk membangung Yogyakarta dengan kekhasaan dan langskap identitasnya Membangun tanpa melihat perbedaan sebagai prasangka yang menghasilkan pandangan akan sentimenitas, memandang perbedaan sebagai corak warna keberagaman yang indah saat disatukan. Dengan memanfaatkan kuasa dunia pendidikan sedari dini kita mengkontruksi pada subjek pembelajar bahwa aku bukan hanya kita, tetapi aku adalah kami, kita, kalian, dan mereka. Saat kesadaran ini terbentuk idelogi pembanguan tidak akan hanya mengejar keuntungan tetapi juga kemanusiaan dan prinsip keberlanjutan, penulis yakin dengan modal sosial yang terbentuk sedari dini terhadap intelektualitas masa depan, Jogja akan kembali pada hakikat toleransi, pembanguan dalam konteks peribadatan seperti pembangunan gereja tidak akan lagi mengalami penolakkan yang berujung konflik layaknya di Gunungkidul. Oleh sebab itu menjadikan perbedaan sebagai modal pembangunan yang menunjang identitas Jogja sebagai kota pendidikan, wisata, dan budaya akan semakin mengorbitkan Jogja yang berhati nyamann, damai, dan aman.
KESIMPULAN
Pembangunan merupakan respon terhadap perubahan, sebagai seorang sosiolog penulis menilai pembangunan bukan hanya fisik dan perubahan bukan hanya material tetapi pembanguanan dan perubahan memiliki dimensi sosial. Dimensi tak kasat mata tetapi sangat menentukan perubahan, apalagi dalam kontur masyarakat yang beragam seolah perubahan hanya menunggu waktu sebagai jawaban atas pembangunan. Salah satu hal yang patut digarisbawahi adalah bagaimana membawah perubahan ke arah konstruktif bukan dekonstruktif, melalui penanaman kesadaran akan perbedaan serta cinta sebagai lantai kesamaan akan menjadi modalitas awal dalam menyelami perbedaan. Konsep mengenai tata kelola perbedaan tersebut dapat dimasukan melalui konsep pendidikan kebhinekaan, dalam masyarakat mulikultural seperti Yogyakarta bhineka sudah menjadi kodrat alami tetapi konsep keikaan yang sejatinya perlu diperjuangkan. Pembentukan subjek pembelajar yang bersinergi dengan keberagaman akan menghasilkan modal sosial untuk mengabdi pada masa depan, saat setiap subjek pembelajar menghayati perbedaan dengan lantai persamaan prasangka akan the other akan mengalami dekontruksi makna, mengangap kawan berbedah bukan sebgai lawan tetapi sebagai kolaborator untuk mengatasi dimensi kerentanan pada misteri masa depan. Saat individu sadar akan posisi subjektivitasnya konsep pembangunan akan berjalan dengan baik, bukan hanya pembangunan yang berjalan lancar tetapi ko nflik akibat perbedaan, pertikaan akibat sentimen keyakinan akan terkikis secara perlahan. Sebagai arena awal pembentukan formasi subjek tersebut dunia pendidikan melalui peran lembaga pendidikan dari dasar sampai tinggi memiliki posisi kuasa yang dapat memainkan peran tersebut. Untuk itu pemanfaatan dunia pendidikan dengan kuasa yang dimiliki untuk menanamkan perasaan dasar esensi cinta dalam keberagaman memainkan peran yang dominan untuk membentuk formasi subjek yang populis, melalui konsep pendidikan kebhinekaan sejatinya menghargai perbedaan dan meyemai persamaan dapat diimplementasikan. Sehingga, konsep besar Yogya untuk membangun bineka tanpa prasangka akan terwujud dan menjadi tonggak pembangunan baik untuk lini masa sekarang dan pengabdian pada misteri masa depan.


Minggu, 24 Januari 2016

GEJOLAK KAPITALISME DALAM BIMBINGAN BELAJAR

TUGAS PENGGANTI UJIAN AKHIR SEMESTER PENULISAN AKADEMIK
JUDUL :
GEJOLAK KAPITALISME DALAM LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR DI KOTA MALANG



logo ugm tdk baku


OLEH :
AGUNG KRESNA BAYU
15/384287/SP/26999

SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJA MADA
2015
GEJOLAK KAPITALISME DALAM LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR DI KOTA MALANG

Abstraksi
Tulisan ini membahas mengenai sistem kapitalisme yang sudah memasuki dunia pendidikan, dalam pembahasan ini fokus kepada lembaga bimbingan belajar di tingkat SMA, tepatnya yang berada di kota Malang, Jawa Timur. Dunia pendidikan yang seyoginya digunakan untuk mempersiapkan calon pemimpin bangsa pada saat ini dioerientasikan ke arah komersialisasi. Dalam kenyataannya, dunia pendidikan tersebut tidak mampu memenuhi harapan dan pertanyaan baik dari peserta didik maupun orang tua. Oleh karena itu, adanya sistem pendidikan yang tidak mampu memberikan kepuasan bagi penikmat pendidikan menyebabkan munculnya solusi untuk mengatasi hal tersebut. Lembaga bimbingan belajar menawarkan kepada peserta didik dan orang tua untuk mengatasi masalah yang timbul dengan memberikan program membantu peserta didik untuk lebih berprestasi dan jaminan kelulusan baik dalam ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi negeri. Dengan adanya peluang pasar tersebut pertumbuhan lembaga bimbingan belajar terus meningkat. Potensi persaingan antar lembaga bimbingan belajar menjadi semakin nyata, hal tersebut manjadi dasar masuknya sistem kapitalisme ke dalam lembaga lembaga bimbingan belajar. Jadi, tujuan awal lembaga bimbingan belajar untuk menjawab ketidakpuasaan peserta didik dan orang tua di era modern bergeser menjadi usaha yang berorientasi komersil. Lembaga bimbingan belajar di tingkat SMA menjadi fokus dalam studi kali ini, tepatnya yang berada di kota Malang, Jawa Timur. Pengumpulan data menggunakan studi kasus dengan metode observasi dan wawancara.  Di dalam permasalah ini penulis menggunakan perspektif konflik, perspektif konflik membahas bahwa dalam setiap masyarakat pasti terjadi konflik dan setiap elemen dari masyarakat tersebut menyumbang terjadinya konflik. Hal tersebut sama seperti yang terjadi dalam kompetisi antar lembaga bimbingan belajar.
      Kata kunci : kapitalisme, lembaga pendidikan, persaingan, lembaga bimbingan belajar.



LATAR BELAKANG
Peserta didik menginginkan pendidikan yang dapat menunjang karir dan kemampuan akademik, sama halnya seperti orang tua mengharapkan lembaga pendidikan yang mampu memberikan jaminan pendidikan yang baik dan menyiapkan anak mereka untuk bersaing dalam dunia kerja. Tidak dapat dipungkuri lembaga pendidikan memiliki peran penting  dalam membentuk karakter dan kemampuan peserta didik, di samping hal tersebut lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda yang cakap, intelektual, dan berbudi pekerti. Jadi, lembaga pendidikan memberikan andil cukup besar bagi kemajuan peserta didik yang siap menjadi generasi pembaharu bagi bangsa dan negara.
Lembaga pendidikan berkembang selaras dengan perkembangan budaya dan teknologi dalam masyarakat (Purwanto 2007). Sependapat dengan hal tersebut Soekanto(1990) menyatakan bahwa perkembangan lembaga pendidikan merupakam akibat perubahan antar generasi. Pada awalnya keluarga berperan sebagai lembaga pendidikan utama bagi anak, perkembangan zaman mengakibatkan peran tersebut kini bergeser pada lembaga pendidikan formal. Perubahan ini mengakibatkan berubahnya orientasi lembaga pendidikan formal yaitu, berorientasi pada pengetahuan umum menjadi berorientasi pada pemenuhan kebutuhan lembaga lain, seperti lembaga ekonomi, politik, keluarga maupun agama. Oleh karena itu, lembaga pendidikan di masa lampau secara substansial berbeda dengan lembaga pendidikan di masa yang akan datang.
Lembaga pendidikan di masa sekarang lebih memprioritaskan untuk membuat peserta didik mampu memenuhi kriteria yang dibutuhkan oleh lembaga lain. Hal ini menyebabkan lembaga pendidikan membuat sistem pengajaran yang menfokuskan pada pemenuhan kriteria tersebut, sehingga muncul sebuah sistem yang tidak mampu mengemas semua kebutuhan dan keinginan baik dari peserta didik maupun orang tua. Oleh karena itu, muncul peluang usaha untuk memenuhi keinginan baik dari peserta didik maupun orang tua yang tidak mampu di jawab oleh sistem tersebut.
Lembaga bimbingan belajar memberikan harapan dan jaminan baik bagi peserta didik maupun orang tua, program lembaga bimbingan belajar memprioritaskan kemampuan peserta didik untuk lebih berprestasi di lembaga pendidikan formal serta mampu menjadi peserta didik unggul dan siap untuk memasuki masa depan. Dengan program tersebut, lembaga bimbingan belajar memainkan peran sebagai lembaga penunjang yang memberikan jaminan kepuasan pada kualitas pendidikan. Selain hal tersebut, dalam dunia modern orang tua dan peserta didik membutuhkan kehadiran lembaga bimbingan belajar untuk mengatasi permasalahan dalam sistem pendidikan yang ada.
Hal di atas terbukti dengan pertumbuhan lembaga bimbingan belajar yang semakin meningkat di kota Malang. Berdasarkan pengamatan penulis, setiap tahun rata-rata pertumbuhan lembaga bimbingan belajar terus meningkat, pertumbuhan tersebut merupakan perluasan cabang dari lembaga-lembaga bimbingan belajar yang telah ada maupun lembaga-lembaga bimbingan belajar baru. Hal tersebut membuat penulis berasumsi bahwa ada sebuah ruang yang tidak bisa dipenuhi oleh sistem pendidikan di Indonesia, sehingga berkembang lembaga-lembaga bimbingan belajar untuk melengkapi ruang tersebut. Lembaga bimbingan belajar menjadikan hal ini sebagai peluang pasar untuk mendapatkan konsumen dan meraih untung sebanyak – banyaknya. Maka dari itu terjadi persaingan dan perebutan konsumen antar lembaga bimbingan belajar.
Lembaga bimbingan belajar menjadikan peserta didik [SMA] sebagai pasar utama untuk memasarkan program dan produknya (Suherman 2010). Hal tersebut menjadikan modal (kapitalisme) menjadi landasan utama lembaga bimbingan belajar saat bersaing mendapatkan pasar di dunia pendidikan. Selain modal dalam mempromosikan sebuah lembaga bimbingan belajar, biasanya mereka menggunakan ikatan alumni, hasil yang telah dicapai dan promo – promo khusus untuk memperkuat dan menarik minat peserta didik. Kuatnya pengaruh modal dalam hal ini menyebabkan lembaga bimbingan belajar yang memiliki modal kuat bisa terus bertahan, meskipun jumlah estimasi peserta didik tidak memenuhi jumlah target.
Peranan modal dalam lembaga bimbingan belajar menjadikan orientasi lembaga bimbingan belajar tersebut ke arah yang mengejar keuntungan. Dengan semakin banyaknya lembaga bimbingan belajar, tidak jarang penulis menemukan persaingan antar lembaga bimbingan belajar yang saling menjatuhkan satu sama lain, contohnya saat penulis duduk di bangku kelas 12 sekolah menengah atas beragam lembaga bimbingan belajar melakukan promosi, disinilah letak saling menjatuhkan antar lembaga bimbingan belajar. Saat lembaga bimbingan belajar X melakukan promosi, diselipkan pesan yang memberikan citra baik bimbingan tersebut dan hasil nyata yang tercapai. Selain dengan memberikan argumen yang kuat, lembaga bimbingan belajar X juga memberikan pandangan negatif dan menganggap lembaga bimbingan belajar Y lebih buruk darinya.
      Modal (kapital) memainkan peran penting dalam hal ini, sehingga membuat sistem kapitalisme masuk dan memainkan perannya dalam lembaga-lembaga bimbingan belajar, eksistensi dari adanya lembaga bimbingan belajar tidak lagi berdasarkan pada kualitas pendidikan, namun telah bergeser pada kuatnya modal yang menopang lembaga bimbingan belajar. Persaingan yang terjadi antar lembaga bimbingan belajar membuat lembaga bimbingan belajar dengan modal cukup besar bisa menyaingi lembaga bimbingan belajar lain yang tidak memiliki modal cukup besar, serta membuat lembaga bimbingan belajar dengan modal cukup besar ini terus bertahan dan menimbulkan jurang pemisah dengan lembaga bimbingan belajar lainnya.

AKAR DAN TUMBUHNYA KAPITALISME
Kapitalisme merupakan sebuah sistem baru yang menggantikan eksistensi feodalisme sebelumnya (Raharjo 1987), sebagai sebuah sistem baru kapitalisme mulai berkembang sejak abad 16, namun dalam kenyataannya sistem kapitalisme telah ada sejak zaman kuno (Budiarjo 1984). Sistem kapitalisme berkembang karena adanya perdagangan jarak jauh pada saat itu. Diantara kantong-kantong kapitalis ini, sistem feodalisme yang ada pada saat itu tidak mampu menjawab dan mengatasi permasalahan ini. Feodalisme menjadikan tanah sebagai fokus dari usahanya dengan ciri khas hubungan antara pemilik tanah dan pekerjanya, tetapi hal tersebut berubah semenjak adanya revolusi industri di Inggris yang membuat beralihnya orientasi usaha dari tanah menjadi modal. Hal ini meyebabkan kaum yang memiliki modal bisa bertahan dan terus melakukan usahanya, sedangkan kaum yang tidak memiliki modal terpaksa bekerja pada pemiliki modal dengan upah rendah dan jam kerja panjang (Redwwood 1990). Inilah yang kemudian menjadi penyebab timbulnya jurang pemisah antara pemilik modal dan pekerja yang semakin melebar.
Adam Smith adalah peletak dasar pemikiran kapitalisme yang menjelaskan bekerjanya mekanisme hukum pasar atas dorongan kepentingan pribadi karena kompetisi dan kekuatan individu dalam menciptakan keteraturan ekonomi (Setiawan 1999). Sehingga kapitalisme melakukan klasifikasi antara nilai guna dan nilai tukar yang ada pada setiap komoditi. Tokoh lain yang penting dalam mengkonstruksi sistem kapitalisme adalah David Ricardo, yang melakukan kritik terhadap Adam Smith, terutama berkaitan dengan nilai komoditi. Menurutnya, nilai komoditi terdapat pada kerja manusia berikut bahan mentah dan alat kerja. Ricardo menemukan bahwa komoditi yang di jual pada harga suatu barang, kira-kira akan setara dengan jumlah pekerja yang memproduksi barang tersebut.
Kedua ilmuan itu menjadi peletak dasar bagi sistem kapitalisme awal dan mereka hidup pada masa transisi dari ekonomi sub-sistem menuju ekonomi pasar yang mengandalkan laba. Sependapat dengan ilmuan tersebut dalam paradigma ilmu sosial, kelahiran kapitalisme tidak akan lepas dari nama Herbert Spencer yang meletakkan dasar bahwa manusia adalah organisme sosial, manusia berkembang dari tahap sederhana menuju tahap yang kompleks. Selain itu, pandangan Herbert Spencer yang terkenal adalah survival of the fittest yaitu sepanjang manusia hidup manusia selalu menghadapi tantangan dan siapa yang terkuat dialah yang menjadi pemenang (Soekanto 1990). Jadi, pandangan mengenai munculnya sistem kapitalisme tidak hanya berpusat pada ajaran ekonomi klasik, namun dalam ilmu sosial juga ada yang meletakkan tahta kelahiran kapitalisme.
Pusat kekuatan dinamis dalam sistem kapitalisme dunia adalah proses akumulasi modal di negara maju (Raharjo, 1987). Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya pemusatan kekuatan industri pada negera-negara maju, yaitu semenjak terjadi revolusi industri. Inggris muncul sebagai negara yang super power dan mengendalikan ekonomi global karena modal memainkan peran penting, hal ini menyebabkan kesenjangan dan pemisahan antara kaum bermodal dan tidak bermodal.
Selanjutnya, proses pertumbuhan kapitalisme di Amerika mengikuti pertumbuhan di Eropa. Dalam hal ini, Amerika serikat memainkan peran yang dominan dalam menciptakan sistem kapitalisme di benua Amerika. Dengan dasar liberalisasi ekonomi dan kapital, Amerika Serikat tumbuh sebagai negara adidaya dalam Perang Dunia II. Jadi, dasar liberalisasi ekonomi dan kapital memainkan peran penting dimana berusaha melucuti peran negara dan mengembalikan pada swastanisasi dan kekuatan pasar.
Sistem kapitalisme masuk ke Indonesia melalui kolonialisme dan imperalisme yang dilakukan oleh bangsa barat (Budiarjo, 1984), kolonialisme telah memainkan sistem yang monopoli dan menguntungkan mereka yang bermodal. Seorang yang memiliki modal bisa mengeksploitasi rakyat tak bermodal. Melihat kenyataan ini memang kapitalisme di Indonesia merupakan sistem yang tidak utuh jika dikomparasikan dengan sistem kapitalisme yang absolut. Jadi, sistem kapitalisme di Indonesia memiliki kekhasan sendiri yang mencorakkan kapitalisme asiatik dan membedakan dengan kapitalisme Eropa.

LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR DILEMA ANTARA GENGSI DAN KUALITAS
Dalam hal ini, penulis memaparkan hasil studi kasus yang dilakukan di kota Malang. Kota Malang merupakan kota besar yang ada di Jawa Timur dengan predikat sebagai kota pendidikan, wisata, industri, dan bunga yang menarik investor untuk menanamkan modalnya di kota ini. Tidak terkecuali dengan lembaga bimbingan belajar, eksistensi dunia lembaga bimbingan belajar di kota Malang terus meningkat dari tahun ke tahun, pertumbuhan lembaga bimbingan belajar di kota Malang sejalan dengan pertumbuhan Malang sebagai kota pendidikan.
Daya tarik dalam dunia pendidikan di kota Malang menarik minat investor lembaga bimbingan belajar untuk bersaing dalam pasar pendidikan, penulis mencatat tahun 2015 ada dua lembaga bimbingan belajar baru yang tumbuh di Malang. Mereka adalah Prosus Inten dan IMI, menjadi pelengkap bagi lembaga bimbingan belajar yang telah ada sebelumnya. Kehadiran mereka tidak dapat di pandang sebelah mata karena terbukti jelas jika Prosus Inten berhasil memainkan frame komunikasi yang efektif dan menarik peserta didik. Sehingga, hal ini menyebabkan persaingan antar lembaga bimbingan belajar. Lembaga bimbingan belajar yang telah ada sebelumnya merasa bahwa dengan adanya bimbingan belajar baru akan menjadikan konsumen mereka di pasar peserta didik akan berkurang dan hal ini menyebabkan target yang mereka susun tidak tercapai. Sebaliknya, lembaga bimbingan belajar baru berdalih bahwa mereka juga mengejar segmentasi pasar dimana kota Malang dianggap sebagai pasar yang menjanjikan dan memberikan keuntungan.
Dengan adanya persaingan tersebut, antar lembaga bimbingan belajar saling memainkan komunikasi yang menjatuhkan lembaga bimbingan belajar lain, pesan yang disampaikan secara implisit adalah memilih lembaga bimbingan belajar tersebut sebagai tempat untuk melengkapi ruang kosong sistem pendidikan Indonesia. Jika dianalogikan, seperti pada saat kampanye pemilihan presiden datang dimana mereka mengklaim bahwa mereka yang paling baik dan patut di pilih, hal ini sama pada saat tahun ajaran baru dimana beragam lembaga bimbingan belajar masuk ke dalam kelas melakukan promosi, mengecap negatif lembaga bimbingan belajar lain, dan menganggap lembaga bimbingan belajarnya yang terbaik.
Penulis melakukan studi kasus terhadap siswa kelas 12 SMA di kota Malang, pemilihan sub-judul lembaga bimbingan belajar menjadi dilema antara gengsi dan kualitas yang muncul dari sudut pandang pengguna jasa lembaga bimbingan belajar tersebut. Penulis melakukan observasi terhadap lembaga bimbingan belajar di kota Malang dan menghasilkan temuan antara lain: Lembaga bimbingan belajar di kota Malang terjadi pengelompokan berdasarkan sekolah, hal ini dapat dijelaskan dengan melihat mayoritas peserta didik yang menggunakan jasa lembaga bimbingan belajar tersebut. Lembaga bimbingan belajar Prosus Inten misalnya, mayoritas peserta didik di sini adalah siswa SMAN 3 yang sebenarnya SMAN 3 merupakan SMA favorit dan elit di kota Malang. Mayoritas siswa SMAN 3 memilih lembaga bimbingan belajar Prosus Inten karena beragam alasan, wawancara yang dilakukan penulis terhadap salah satu peserta didik Prosus Inten sekaligus siswa SMAN 3 menghasilkan alasan antara lain letak geografis yang berdekatan, bukti nyata, banyak teman, dan alasan terakhir ini muncul dari salah satu peserta didik Prosus Inten sekaligus siswa SMAN 3 yaitu karena Inten memiliki biaya pendidikan yang mahal. Alasan terakhir yang diutarahkan tersebut menjadi bukti bahwa gengsi dan stratifikasi menjadi hal yang diperhitungkan oleh peserta didik saat memilih lembaga bimbingan belajar.
Berbeda dengan Prosus Inten, lembaga bimbingan belajar Neutron mayoritas peserta didiknya adalah siswa SMAN 8. Penulis melakukan wawancara pada salah satu peserta didik sekaligus siswa SMAN 8, pertanyaan yang diajukan penulis sama dengan pertanyaan sebelumnya, mengapa memilih lembaga bimbingan belajar disini? Jawaban yang diberikan adalah moyoritas teman belajar di lembaga tersebut, apalagi Neutron memberikan fasiltas satu kelas untuk satu sekolah saja sehingga menjadi lebih nyaman dan kualitas yang telah dibuktikan. Penulis menambah pertanyaan sedikit mengapa lebih memilih Neutron daripada Inten? Maka jawaban yang muncul adalah Inten mahal dan hanya untuk orang yang memiliki modal banyak. Dari temuan pertama ini penulis berasumsi jika dalam lembaga bimbingan belajar sendiri terjadi stratifikasi dan stratifikasi tersebut didasarkan pada jumlah estimasi biaya yang dikeluarkan peserta didik untuk bisa menngikuti lembaga bimbingan belajar.
Temuan ke dua, penulis juga menemukan bahwa dalam lembaga bimbingan belajar sendiri juga terjadi stratifikasi, buktinya adalah dengan penamaan kelas, fasilitas, dan jaminan lembaga bimbingan belajar berdasarkan biaya yang dikeluarkan peserta didik. Di lembaga bimbingan belajar Ganesha Operation terjadi pembedaan level kelas dan materi dari strata kelas gold, silver, dan perunggu. Ketiga kelas tersebut dibedakan atas dasar jumlah siswa dalam ruangan dan biaya yang dikeluarkan. Wawancara yang penulis lakukan pada peserta didik kelas silver menemukan bahwa mereka yang berada di kelas silver merasa bangga jika bertemu dengan peserta didik kelas perunggu dan seolah ada garis pemisah abstrak antar kelas gold, silver, dan perunggu. Hal yang sama juga terjadi dalam lembaga bimbingan belajar Sony Sugema College dimana pembedaan kelas disini berdasrakan pada jaminan dan biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik. Jaminan yang diberikan beragam, mulai kerjasama awal hingga lulus ujian nasional atau sampai seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri. Asumsi muncul dari penulis bahwa pembedaan stratifikasi dalam dunia lembaga bimbingan belajar didasarkan atas biaya yang dikeluarkan untuk dapat belajar di lembaga tersebut, jadi secara tidak langsung modal memainkan peran kembali, dalam hal ini mereka yang bermodal cukup dapat memilih lembaga bimbingan belajar manapun dan kelas apapun, namun mereka yang tidak memiliki modal cukup harus puas dengan kelas yang ada. Sehinngga jurang pemisah dan kasta terbentuk baik pada lembaga bimbingan belajar maupun peserta didik.

ANALISIS SOSIOLOGIS BERDASARKAN PERSPEKTIF KONFLIK
Seseorang memaknai konflik sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap unsur sosial yang ada (Soekanto 1990). Konflik sendiri telah menjadi sebuah perspektif yang tumbuh dan berkembang sebagai teori besar dalam sosiologi. Dalam perkembangan teori konflik, teori ini merupakan kritik langsung terhadap teori struktural fungsionalisme yang telah ada pada saat itu. Teori ini pada awalnya dikembangkan oleh Ralph Dahrendorf dan disempurnakan oleh Luwis Coser yang memandang bahwa selama hidup, manusia terus mengalami konflik dan senantiasa terus berlangsung.(Ritzer 2008). Jadi, teori konflik berasumsi jika setiap elemen dalam masyarakat memberi kontribusi terhadap terjadinya konflik dan konflik akan terus ada di dalam kehidupan  masyarakat selama masih ada stratifikasi sekaligus dominasi yang dilakukan.
Kasus kapitalisme lembaga bimbingan belajar di atas memberikan gambaran jika dalam lembaga bimbingan belajar terjadi persaingan dan perebutan pasar, selain itu dalam lembaga bimbingan belajar terjadi stratifikasi. Oleh karena itu, penulis menarik sebuah relevansi dengan teori konflik yang telah ada karena pemaparan teori konflik sekaligus kasus kapitalisme pada lembaga bimbingan belajar memiliki relevansi dan keterhubungan.
Teori konflik memberikan pandangan jika setiap elemen dalam masyarakat menyumbang terjadinya konflik, jika pandangan ini diterapakan dalam kasus di dalam penulisan ini, maka menunjukkan dengan jelas bahwa setiap elemen dalam lembaga bimbingan belajar tersebut menyumbang terjadinya konflik. Peserta didik, guru, karyawan lembaga bimbingan belajar dalam hal ini memainkan perannya masing-masing dan meyumbang terjadinya konflik, baik dalam lembaga bimbingan belajar maupun antar lembaga bimbingan belajar. Penulis menemukan jika dalam lembaga bimbingan belajar sendiri terjadi stratifikasi seperti yang telah dijelaskan di atas. Guru dan peserta didik terjadi hubungan yang vertikal, hal ini membuat guru menjadi kaum super-ordinat yang dominan dan peserta didik sebagai kaum sub-ordinat yang didominasi. Selain guru, karyawan, dan petugas kebersihan lembaga bimbingan belajar memainkan perannya sendiri. Namun tidak dapat dipungkuri selain dalam melaksanakan tugas kebersihan, mereka juga mengeluh akibat peserta didik banyak yang membuang sampah sembarangan atau guru yang memanfaatkan mereka. Seperti salah satu bimbingan belajar yang hanya memiliki satu petugas tata usaha dan satu petugas kebersihan, namun diantara mereka berdua biasanaya melakukan pekerjaan yang tidak semestinya. Saat guru membutuhkan mereka untuk membeli makanan, maka mereka berdua yang akan melakukan tugas tersebut. Penulis pernah bertanya pada salah satu petugas bahwa sebenarnya mereka merasa keberatan saat dituntut untuk melakukan tugas lain karena dianggap di luar tanggung jawab mereka. Oleh karena itu, dalam lembaga bimbingan belajar antara guru dan petugas terjadi perbedaan kepentingan dan keinginan, potensi konflik muncul sebagai jawaban atas adanya ketidakpuasan dan dominasi.
Peserta didik dan guru terjadi perbedaan kepentingan juga sebaliknya antar guru pun terjadi perbedaan kepentingan. Hierarki kepemimpinan dalam guru dengan adanya kepala cabang, guru, atau guru magang menyebabkan setiap elit memiliki kepentingan yang berbeda. Kepala cabang menginginkan komunikasi yang disampaikan berjalan secara dua arah, guru menginginkan mereka menjadi pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan berharap tidak tergeser oleh persaingan dari guru magang. Begirtu juga dengan guru magang yang menginginkan posisi layak sebagai guru tetap. Terjadinya gejolak seperti ini menyebabkan konflik yang terjadi dalam kalangan guru tersebut.
Hubungan antar peserta didik menimbulkan persaingan akibat suatu sistem nilai dari lembaga bimbingan belajar. Mereka bersaing menjadi yang terbaik dengan mengalahkan saingan mereka, hal tersebut bukan hanya berasal dari pikiran satu orang peserta didik tetapi, seluruh peserta didik memainkan keinginan tersebut yang menyumbang pada terjadi konflik. Seperti pernyataan yang didapati penulis dilapangan bahwa anak bimbingan belajar Prosus Inten yang memperoleh predikat nilai tinggi menginginkan terus memegang peringkat teratas di dalam kelas, namun setiap peserta didik memiliki kepentingan yang sama untuk mendapatkan peringkat teratas di dalam kelas, sehingga muncul persaingan antar peserta didik di dalam kelas.
Konteks lebih luas menunjukkan persaingan antar lembaga-lembaga bimbingan belajar yang berebut pengaruh dan pasar, penulis menjelaskan di atas jika persaingan antar lembaga-lembaga bimbingan belajar membuat mereka saling menjatuhkan dan memberikan pandangan negatif terhadap lembaga bimbingan belajar lainnya. Inilah penyebab dari konflik yang terjadi dan meyebabkan peran modal menjadi penting, sehingga unsur kapitalisme masuk dan mulai merasuki dunia pendidikan. Bukti nyata lapangan yang di dapat penulis adalah saat terjadi gesekan antara petugas kebersihan Inten dan Ganesa yang terjadi akibat saling menjelekan masing-masing instansi.

KESIMPULAN
Sistem kapitalisme terus berkembang dengan perkembangan kehidupan manusia, sejarah mencatat perkembangan awal sistem kapitalisme terjadi pada bidang pertanian akibat dari adanya kaum pemilik tanah dan pekerja. Selanjutnya, sistem kapitalisme berubah masuk ke dalam bidang ekonomi akibat adanya kaun pemilik alat produksi dan pekerja. Kehidupan manusia bersifat dinamis, berkembang dari sederhana hingga ke arah yang lebih kompleks. Hal ini menyebabkan kebutuhan dan kemampuan manusia semakin terspesialisasi. Sistem kapitalisme terjadi akibat adanya kaum yang memiliki modal dan mendominasi pasar, dari dominasi tersebut akhirnya membuat mereka saling beorientasi pasar dan mengejar keuntungan masing-masing. Mereka tidak menggunakan lagi cara positif dalam bersaing untuk menarik konsumen. Oleh karena itu, dalam kehidupan modern sistem kapitalisme tidak hanya terbatas pada satu bidang atau hal saja tetapi, sudah memasuki ke setiap sendi kehidupan manusia sampai pada hal yang spesifik seperti pendididkan.
Dunia pendidikan merupakan reflektifitas kritis akaibat perubahan yang terjadi di masyarakat. Masyarakat membutuhkan kebutuhan dan kemampuan yang lebih terspesialisasi, akibat dari adanya kebutuhan tersebut muncul lembaga pendidikan, lembaga pendidikan memainkan peran penting dalam menyanggah pilar kehidupan bangsa di masa depan dan mempersiapkan generasi intelektual untuk siap bersaing. Sistem kurikulum pendidikan membuat kebebasan peserta didik terbatas, selain itu menyebabkan adanya sendi-sendi mikro yang tidak terjangkau sistem tersebut. Oleh karena itu, lembaga bimbingan belajar hadir menjadi solusi sebagai pelengkap sistem pendidikan yang tidak mampu menyangkut seluruh aspek.
Adanya segmentasi tersebut membuat dunia pendidikan menjadi wajah baru dalam orientasi produksi, pasar peserta didik yang semakin banyak dan juga kebutuhan orang tua akan lembaga yang mampu menjadi pelengkap sistem pendidikan yang tidak terpenuhi membuat lembaga bimbingan belajar tumbuh pesat. Lembaga bimbingan belajar semakin hari semakin menjamur dalam masyarakat mengakibatkan terjadinya persaingan dan membuat orientasi keuntungan dari pasar peserta didik. Hal ini  meyebabkan modal setiap lembaga bimbingan belajar memainkan peran penting sehingga lembaga bimbingan belajar yang memiliki modal kuat mampu bertahan. Oleh karena itu, modal memainkan peran penting mengakibatkan sistem kapitalisme memasuki ke dalam dunia pendidikan saat ini yang akan makin memperlebar jurang  pemisah antara pemilik modal dan masyarakat pekerja.

DAFTAR PUSTAKA
Purwanto. 2007 .Sosiologi Untuk Pemula .Yogyakarta: Media Wacana
Soekanto Soerjono. 1990 . Pengatar Sosiologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Budiarjo Miriam (Eds). 1984 . Simposium Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi, Jakarta: PT Gramedia
Raharjo Dawam (Eds). 1987 . Kapitalisme Dulu dan Sekarang. Jakarta: LP3ES
Redwood John. 1989 . Kapitalisme Rakyat. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti
Ritzer, G, Douglas. 2008 . Teori Sosiologi Dari Teori Klasik sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Suherman. 2010 . Lembaga bimbingan belajar. Tesis tidak dipublikasikan, Universitas Padjajaran
Setiawan Bonnie, 1999 , Perubahan Kapitalisme di Dunia Ketiga, Jakarta: Insist Press